| Minggu, 17-02-2008 | 00:55:25 | |
|
BANJARMASIN, BPOST - Gelombang di Laut Jawa masih ganas. Aktivitas di perairan pun nyaris terhenti. Tongkang-tongkang batu bara dari Banjarmasin tertahan di perairan Sungai Barito.
Terkait hal itu, pihaknya telah memberikan peringatan kepada seluruh kapal yang ingin berlayar untuk lebih berhati-hati. Karena berdasar informasi baik dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) maupun laporan kru kapal, gelombang laut di atas tiga meter. "Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sejak kemarin (Jumat) kita telah berikan peringatan kepada seluruh kapal, apabila ingin berlayar agar lebih hati-hati," tegasnya. Peringatan yang dikeluarkan Adpel itu langsung ditanggapi pihak kapal. "Karena ada peringatan (Adpel) ditambah informasi BMG, tongkang-tongkang batu bara tujuan Cilacap, Paiton, Cirebon untuk sementara memilih bertahan," jelas Ketua International Ship Owner Acociation (INSA) Banjarmasin, Syamsuddin Gayo. Menurutnya, sepanjang nakhoda kapal tidak berani memastikan keselamatan di laut, pihak perusahaan batu bara tidak mau mengambil risiko. Berdasar pantauan BPost, akibat tidak adanya tongkang batu bara yang keluar, puluhan tugboat yang biasa menarik tongkang batu bara banyak parkir di sekitar Pelabuhan Trisakti. Dikatakan Gayo, akibat buruknya kondisi cuaca di laut juga berimbas terhadap angkutan batu bara tujuan luar negeri. "Mengingat kondisi cuaca di laut yang begitu mengkhawatirkan aktivitas bongkar muat daerah Tabunio ikut terhambat," katanya. Namun, lanjut Gayo, untuk tongkang batu bara yang berangkat dari Sungai Puting atau Klanis ke Tabunio tetap jalan. "Tapi itupun harus lebih hati-hati mengingat kondisi gelombang di laut saat ini mencapai 2,5-3 meter," katanya. "Setiap hari kita berusaha memantau perkembangan kondisi cuaca di laut melalui BMG. Kalau sudah mulai membaik, tentu angkutan batu bara bisa kembali normal," harapnya. Sebuah kapal peti kemas Caraka 19 milik PT Spil yang rencananya berangkat ke Jawa kemarin, akhirnya tertahan di sekitar pelabuhan sembari menunggu kondisi laut kembali normal. "Karena informasinya gelombang masih tinggi, kapal kami (Caraka 19) hari ini (kemarin) tidak bisa keluar. Nggak tahu nanti apakah bisa atau tidak. Untuk sementara parkir dulu," kata seorang petugas keamanan PT Spil, di Pelabuhan Trisakti. Bahkan akibat buruknya kondisi cuaca di laut, jadwal keberangkatan KM Marina Nusantara jurusan Banjarmasin-Surabaya ditiadakan. "Kalaupun kita buka loket penjualan tiket, tiket yang dijual untuk keberangkatan Senin (18/2). Sementara, untuk hari ini (kemarin), ditiadakan karena tidak ada kapal yang berangkat," kata seorang petugas PT Prima Vista kepada BPost, kemarin. (mdn) |
Kumpulan kliping WALHI Kalsel yang bersumber dari berbagai media massa di Kalimantan Selatan dengan issue pertambangan.
Wednesday, February 20, 2008
Pengiriman Batu Bara Terhenti
Tongkang Batu Bara dari Banjarmasin Terdampar
Sabtu, 16-02-2008 | 01:30:29
TULUNGAGUNG, BPOST - Akibat diterjang gelombang besar serta empasan angin kencang sejak Selasa (12/2) kemarin, sebuah kapal tongkang bermuatan batu bara seberat 13 ribu ton dari Banjarmasin dengan tujuan PLTU Cilacap, Jateng terdampar di selatan Teluk Popoh Desa Besole, Tulungagung, Jatim.
Kapal dengan nomor lambung TJA 285 dan berawak kapal 10 orang termasuk nahkoda ini, merapat di antara perahu nelayan yang bersandar sekitar lima kilometer dari garis pantai. Sebab dengan berada disana, kapal akan terhindar dari amukan gelombang besar yang langsung pecah ketika masuk Teluk Popoh.
Menurut keterangan Slamet, salah seorang warga Popoh, peristiwa terdamparnya kapal pengangkut batu bara itu sempat mengejutkan para nelayan. Sebab, di tengah cuaca buruk, angin kencang, dan ombak besar dari kejauhan nelayan melihat kapal tongkang menyeret kapal lain berukuran lebih besar yang di dalamnya mengangkut gundukan warna hitam. Kapal ini bergerak ‘terseok-seok’ mendekati arah pantai.
"Setelah kami lihat lebih dekat ternyata kapal pengangkut batu bara yang bersandar setelah dihantam ombak besar," ujar Slamet, Jumat (15/2).
Dikatakannya, peristiwa ini bukanlah yang kali pertama. Sekitar pertengahan 2007 lalu, sebuah kapal pengangkut batu bara juga memutuskan berlindung di Teluk Popoh setelah dihantam gelombang besar.
Dari pantauan di lapangan cuaca di perairan selatan masih terlihat buruk. Gelombang laut bergulung dengan ketinggian sekitar 2-3 meter. Volume air yang lebih banyak membuat garis pantai tidak terlihat sama sekali. Tidak hanya itu. Hujan disertai angina kencang juga terus mengguyur. Beruntung saat merapat, kapal batubara ini tidak menbrak ratusan perahu nelayan yang sedang bersandar.
"Akibat cuaca buruk ini para nelayan sudah sekitar sepekan lebih tidak berani melaut," tuturnya.
Sang Nahkoda, Werlif Manupe mengatakan, kapalnya berangkat dari Banjarmasin pada 2008 lalu. Sesuai jadwal, tandas warga Sulawesi ini, kapal seharusnya sampai ke PLTU Cilacap pada 11 Pebruari 2008. "Karena cuaca sangat buruk ini perjalanan kami terhambat," tuturnya.
Werlif mengatakan, sebelum terdampar di Teluk popoh, kapal sudah memasuki wilayah perairan Pacitan, Jatim. Namun, ketika hendak melanjutkan perjalanan, cuaca laut semakin buruk ditambah gelombang tinggi.
"Kita tidak berani berspekulasi mengambil resiko dengan meneruskan perjalanan. Karena bisa-bisa muatan kami tumpah," katanya. (okz)
TULUNGAGUNG, BPOST - Akibat diterjang gelombang besar serta empasan angin kencang sejak Selasa (12/2) kemarin, sebuah kapal tongkang bermuatan batu bara seberat 13 ribu ton dari Banjarmasin dengan tujuan PLTU Cilacap, Jateng terdampar di selatan Teluk Popoh Desa Besole, Tulungagung, Jatim.
Kapal dengan nomor lambung TJA 285 dan berawak kapal 10 orang termasuk nahkoda ini, merapat di antara perahu nelayan yang bersandar sekitar lima kilometer dari garis pantai. Sebab dengan berada disana, kapal akan terhindar dari amukan gelombang besar yang langsung pecah ketika masuk Teluk Popoh.
Menurut keterangan Slamet, salah seorang warga Popoh, peristiwa terdamparnya kapal pengangkut batu bara itu sempat mengejutkan para nelayan. Sebab, di tengah cuaca buruk, angin kencang, dan ombak besar dari kejauhan nelayan melihat kapal tongkang menyeret kapal lain berukuran lebih besar yang di dalamnya mengangkut gundukan warna hitam. Kapal ini bergerak ‘terseok-seok’ mendekati arah pantai.
"Setelah kami lihat lebih dekat ternyata kapal pengangkut batu bara yang bersandar setelah dihantam ombak besar," ujar Slamet, Jumat (15/2).
Dikatakannya, peristiwa ini bukanlah yang kali pertama. Sekitar pertengahan 2007 lalu, sebuah kapal pengangkut batu bara juga memutuskan berlindung di Teluk Popoh setelah dihantam gelombang besar.
Dari pantauan di lapangan cuaca di perairan selatan masih terlihat buruk. Gelombang laut bergulung dengan ketinggian sekitar 2-3 meter. Volume air yang lebih banyak membuat garis pantai tidak terlihat sama sekali. Tidak hanya itu. Hujan disertai angina kencang juga terus mengguyur. Beruntung saat merapat, kapal batubara ini tidak menbrak ratusan perahu nelayan yang sedang bersandar.
"Akibat cuaca buruk ini para nelayan sudah sekitar sepekan lebih tidak berani melaut," tuturnya.
Sang Nahkoda, Werlif Manupe mengatakan, kapalnya berangkat dari Banjarmasin pada 2008 lalu. Sesuai jadwal, tandas warga Sulawesi ini, kapal seharusnya sampai ke PLTU Cilacap pada 11 Pebruari 2008. "Karena cuaca sangat buruk ini perjalanan kami terhambat," tuturnya.
Werlif mengatakan, sebelum terdampar di Teluk popoh, kapal sudah memasuki wilayah perairan Pacitan, Jatim. Namun, ketika hendak melanjutkan perjalanan, cuaca laut semakin buruk ditambah gelombang tinggi.
"Kita tidak berani berspekulasi mengambil resiko dengan meneruskan perjalanan. Karena bisa-bisa muatan kami tumpah," katanya. (okz)
Terkubur Batu Bara
Minggu, 10-02-2008 | 01:50:17
• Truk Tabrak Gardu Portal
KANDANGAN, BPOST - Suasana Desa Idda Manggala, Kecamatan Sungai Raya, Hulu Sungai Tengah, Sabtu (9/2) malam, hening karena para warga larut dalam suasana duka. Tiga warga setempat, Taufik Muklas (9), Adriansyah (27), dan Rizali (17) tewas dalam waktu bersamaan.
Ketiganya mengalami nasib nahas, terkubur batu bara yang tumpah dari sebuah truk yang mengalami kecelakaan, sekitar pukul 16.00 Wita. Ketika itu, truk pengangkut batu bara dengan nomor polisi DA 9333 D yang dikemudikan Syamsul, menabrak bagian belakang mobil Honda Jazz DA 8075 AM yang saat itu berhenti mendadak di sekitar jalan tambang.
Setelah menabrak mobil, truk tetap melaju dan nyelonong ke kanan jalan hingga menabrak gardu portal pencatatan truk batu bara.
Celakanya, pada saat itu gardu sedang disinggahi belasan warga. Sebagian berhasil lari menyelamatkan diri.
Tetapi, Taufik, Adriansyah dan Rizali apes. Tiga warga lainnya, Hirman (18), Helmi Basuki (17) dan Hasan (40) sempat tertimbun batu bara, beruntung jiwanya selamat.
Hirman menuturkan, sekujur tubuhnya, kecuali bagian kepala, sempat terkubur batu bara. Namun, karena masih bisa bernafas, ia selamat. Itu berbeda dengan tiga korban lainnya yang seluruh tubuhnya terpendam emas hitam yang tumpah dari truk.
“Yang duduk di gardu ada 10 orang lebih. Tapi yang lain sempat menghindar. Sedangkan saya saat itu baru melangkah namun tiba-tiba tubuh saya tertimpa bongkahan batu bara. Hanya kepala saya saja yang tidak terkubur,” katanya Herman yang mengalami benjol-benjol dan luka-luka di tubuhnya itu.
Ia pun menduga, kecelakaan terjadi karena sopir truk kehilangan konsentrasi. Sebab, di antara rekannya telah memberi aba-aba berhenti, tetapi truk tetap melaju.
Akibat tertabrak truk, gardu ambruk. Sedangkan truk terbalik dengan posisi roda berada di atas. Ketika para warga berusaha mengevakuasi korban, tiga warga ditemukan sudah tidak bergerak lagi. Suasana desa pun gempar.
Yang menarik, ketika warga sibuk menyelamatkan para korban, sopir truk, bernama syamsul, warga Muara Pipi, Kecamatan Padang Batung, HSS itu kabur. Hingga malam tadi ia masih dicari aparat kepolisian. Sedangkan sopir Honda Jazz, Ahmadi dan empat anggota keluarganya malam tadi dimintai keterangan di Polres HSS.
Ahmadi mengaku, sore itu hendak pulang ke Martapura, setelah mengunjungi saudaranya di Barabai. Karena bertamu bersama sang istri Saidah (27), adiknya Hadizah (25) dan dua anaknya Askia (3) serta Raihan-- yang baru berumur lima bulan, maka diputuskan menggunakan mobil. Tetapi ia menyayangkan, meski sudah hati-hati ternyata mobilnya tertabrak truk dari belakang hingga penyok.
Kapolres HSS, AKBP Taufik Supriyadi, menyatakan masih menyelidiki kecelakaan tersebut. Diakuinya, saat kejadian, di lokasi tersebut sedang ada truk yang keluar masuk lokasi tambang PT Antang. Karena itu mobil Jazz berhenti dengan maksud memberi jalan bagi truk yang hendak masuk ke jalur utama, Jalan A Yani. diduga karena sopir truk tak siap, tabrakan tak terhindarkan.(ck2)
• Truk Tabrak Gardu Portal
KANDANGAN, BPOST - Suasana Desa Idda Manggala, Kecamatan Sungai Raya, Hulu Sungai Tengah, Sabtu (9/2) malam, hening karena para warga larut dalam suasana duka. Tiga warga setempat, Taufik Muklas (9), Adriansyah (27), dan Rizali (17) tewas dalam waktu bersamaan.
Ketiganya mengalami nasib nahas, terkubur batu bara yang tumpah dari sebuah truk yang mengalami kecelakaan, sekitar pukul 16.00 Wita. Ketika itu, truk pengangkut batu bara dengan nomor polisi DA 9333 D yang dikemudikan Syamsul, menabrak bagian belakang mobil Honda Jazz DA 8075 AM yang saat itu berhenti mendadak di sekitar jalan tambang.
Setelah menabrak mobil, truk tetap melaju dan nyelonong ke kanan jalan hingga menabrak gardu portal pencatatan truk batu bara.
Celakanya, pada saat itu gardu sedang disinggahi belasan warga. Sebagian berhasil lari menyelamatkan diri.
Tetapi, Taufik, Adriansyah dan Rizali apes. Tiga warga lainnya, Hirman (18), Helmi Basuki (17) dan Hasan (40) sempat tertimbun batu bara, beruntung jiwanya selamat.
Hirman menuturkan, sekujur tubuhnya, kecuali bagian kepala, sempat terkubur batu bara. Namun, karena masih bisa bernafas, ia selamat. Itu berbeda dengan tiga korban lainnya yang seluruh tubuhnya terpendam emas hitam yang tumpah dari truk.
“Yang duduk di gardu ada 10 orang lebih. Tapi yang lain sempat menghindar. Sedangkan saya saat itu baru melangkah namun tiba-tiba tubuh saya tertimpa bongkahan batu bara. Hanya kepala saya saja yang tidak terkubur,” katanya Herman yang mengalami benjol-benjol dan luka-luka di tubuhnya itu.
Ia pun menduga, kecelakaan terjadi karena sopir truk kehilangan konsentrasi. Sebab, di antara rekannya telah memberi aba-aba berhenti, tetapi truk tetap melaju.
Akibat tertabrak truk, gardu ambruk. Sedangkan truk terbalik dengan posisi roda berada di atas. Ketika para warga berusaha mengevakuasi korban, tiga warga ditemukan sudah tidak bergerak lagi. Suasana desa pun gempar.
Yang menarik, ketika warga sibuk menyelamatkan para korban, sopir truk, bernama syamsul, warga Muara Pipi, Kecamatan Padang Batung, HSS itu kabur. Hingga malam tadi ia masih dicari aparat kepolisian. Sedangkan sopir Honda Jazz, Ahmadi dan empat anggota keluarganya malam tadi dimintai keterangan di Polres HSS.
Ahmadi mengaku, sore itu hendak pulang ke Martapura, setelah mengunjungi saudaranya di Barabai. Karena bertamu bersama sang istri Saidah (27), adiknya Hadizah (25) dan dua anaknya Askia (3) serta Raihan-- yang baru berumur lima bulan, maka diputuskan menggunakan mobil. Tetapi ia menyayangkan, meski sudah hati-hati ternyata mobilnya tertabrak truk dari belakang hingga penyok.
Kapolres HSS, AKBP Taufik Supriyadi, menyatakan masih menyelidiki kecelakaan tersebut. Diakuinya, saat kejadian, di lokasi tersebut sedang ada truk yang keluar masuk lokasi tambang PT Antang. Karena itu mobil Jazz berhenti dengan maksud memberi jalan bagi truk yang hendak masuk ke jalur utama, Jalan A Yani. diduga karena sopir truk tak siap, tabrakan tak terhindarkan.(ck2)
Subscribe to:
Posts (Atom)