Wednesday, April 04, 2007

Briket Batubara Terkendala Pabrik

Minggu, 11 Maret 2007 02:31

Kotabaru, BPost
Pabrik briket batubara Kotabaru yang ditargetkan oleh Departemen Perindustrian RI beroperasi akhir tahun ini, belum terealisasi karena biaya pembangunan pabrik dan fasilitas penunjangnya tidak dianggarkan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi setempat.

Kepala Disperindagkop Kotabaru H Anshari Suryadi mengakui sudah menerima bantuan mesin pengolah briket itu yang merupakan fasilitas pendukung pembuatan pabrik di desa Serongga, Kecamatan Kelumpang Hilir.

Bantuan berupa mesin pressure (pembriket) 15 HP 4P, mesin rotary 15 HP, conveyor 4 set dengan daya 3 HP, jaw cruser 10 HP, hammer mill 10 HP, vibrating screen 4 HP, mesin mixer 1 HP 3 phase, hoper bahan baku, fallet handling 4 set, mesin fowder dan alat pendukung, seperti sekop dan help kerja.

"Sekarang tinggal kesiapan kita membangun pabrik. Persoalannya, untuk bangunannya belum dianggarkan APBD 2007 ini. Padahal dalam waktu dekat tim dari Departemen Perindustrian pusat akan datang untuk merakit mesin dan memberikan pembekalan cara pengoperasiannya," jelas Anshari.

Untuk mempercepat pembangunan, anggaran akan dimasukkan pada Anggaran Biaya Tambahan ABT). Sementara, pembangunan pabrik akan ditawarkan kepada pengusaha yang berkenan membangunkan sambil menunggu cairnya dana.

"Kenapa harus segera dilaksanakan, karena pengembangan briket di Kotabaru sangat prospek sebagai alternatif pengganti migas. kompornya," jelas Anshari. Bupati Kotabaru H Sjachrani Mataja menginstruksikan Bappeda memasukan program anggaran tersebut dalam ABT 2007.dhs

Minyak Bumi Sebuku Dieksplorasi

Minggu, 11 Maret 2007 02:31

* Satu sumur kosong

Kotabaru, BPost
Upaya pengeboran minyak dan gas di Blok Sebuku, lepas pantai Selat Makasar, Kotabaru mulai dilaksanakan. Namun PT Pearl Oil hanya menemukan dua sumur berisi minyak, sedangkan sebuah sumur lainnya nihil.

Rencananya, pihak Pearl Oil ingin menghentikan eksplorasi tersebut namun, karena desakan berbagai pihak eksplorasi tetap dilanjutkan ke tahap eksploitasi.

"Kami akan terus melakukan eksplorasi hingga ke eksploitasi karena kandungan minyak dan gas yang kami temukan cukup ekonomis,"jelas General Manager PT Pearl Oil Kusmutarto Basuki.

Penjelasan ini juga disimak sejumlah pejabat pemkab Kotabaru, diantara Wakil Bupati Kotabaru Fatizanolo, Ketua DPRD Kotabaru M Alamsyah, sejumlah kepala dinas dan instansi vertikal, TNI/Polri dan tokoh masyarakat.

Perusahaan ini sebelumnya telah melakukan survei di kawasan eksplorasi yang berjarak sekitar 4 jam jalur laut dari Kotabaru. Namun dari tiga titik pengeboran yaitu sumur Makasar-2 dengan kedalaman 4.500 ft, sumur Berlian kedalaman 6.000 ft dan sumur Mutiara 5.600 ft hanya dua sumur yang ada minyaknya.

"Sesuai perhitungan kami, seharusnya pengeboran dihentikan dan tidak dilanjutkan ke eksploitasi. Karena pertimbangan lain kami akan melakukan pengeboran dua sumur lagi," jelas Kusmutarto menambahkan jika pengeboran sumur ke empat dan kelima nantinya berhasil, aktivitas pengeboran akan dilakukan.

Wakil Bupati Fatizanolo berharap aktivitas pengeboran minyak dan gas di blok Sebuku ini mampu memberikan kontribusi bagi Kotabaru. Jika penambangan minyak ini lancar Pendapatan Asli Daerah Kotabaru akan semakin besar. Diakui, masih banyak Sumber Daya Alam Kotabaru belum tergarap diantaranya migas.

Pihak Pearl Oil belum bisa menjelaskan dengan pasti berapa kandungan minyak dari dua sumur yang sudah terdeteksi.dhs

Solar Disembunyikan Di Semak

Sabtu, 10 Maret 2007 00:53

* Diambil dari tugboat batu bara

Pelaihari, BPost
Intensnya penambangan batu bara di wilayah Kecamatan Jorong dan Kintap memunculkan pedagang solar ilegal. Jumlahnya dikabarkan semakin banyak dan umumnya tak memiliki izin usaha.

Informasi diperoleh, mereka beraktivitas secara kucing-kucingan. Polisi terus mengendus dan berupaya mengisolasi, karena aktivitas mereka ilegal lantaran tidak memiliki delivery order dari PT Pertamina atas kepemilikan solar yang jumlahnya kadang mencapai puluhan ribu liter.

Solar tersebut kabarnya mereka kumpulkan dari kencingan tugboat, kapal pengangkut tongkang batu bara. Solar ditampung di dalam galon ukuran besar yang disembunyikan di semak belukar di pesisir laut jauh dari permukiman penduduk (nelayan).

Harga solar dari kencingan tugboat cukup murah. Jika dihitung per tangki volume 5.000 liter harganya cuma Rp18 juta. Sementara harga di Pertamina berkisar Rp25 juta. Solar tersebut umumnya dipasok ke tambang.

Lantaran keuntungan menggiurkan itulah, banyak orang tergiur melakoni usaha berbahaya itu. Informasinya di semua muara laut di Tala di wilayah Kintap dan Jorong telah ada pedagang solar ilegal. Jumlahnya mencapai 2-5 pedagang.

Polsek Kintap tahun lalu menyita puluan ribu solar ilegal dari Muara Kintap. Pelakunya juga telah ditangkap dan diproses hukum.

Masalah tersebut mulai disikapi oleh Dinas Koperindag dan Penanaman Modal Tala. "Kami sudah turun ke lapangan. Kami dapat informasi semakin banyak warga yang melakoni usaha ilegal itu, karena tergiur keuntungan besar," kata Kabid Perdagangan Murjani, Jumat (9/3).

Menurutnya, sesuai informasi yang diterimanya usaha terlarang itu ada di seluruh muara sungai dekat laut Jawa di Kintap dan Jorong. Dipastikannya mereka yang melakoni jual beli solar dari kencingan tugboat tersebut tidak memiliki izin usaha dagang.

Ia mengimbau agar mereka meninggalkan usaha ilegal tersebut.

"Kami punya solusi. Kami siap memfasilitasi ke PT Pertamina jika mereka ingin berdagang BBM (solar)," kata Murjani.

Pihaknya juga akan membantu mempermudah pengurusan izin usaha dagang. "Silakan ke Pelaihari untuk mengurus izin usaha, kami akan membantu semaksimal mungkin. Yang penting, tinggalkan usaha ilegal, karena merugikan masyarakat dan negara dan salah-salah bisa selamanya hidup di bui," kata Murjani. roy