Monday, March 24, 2008

Kapolres Bingung

Jumat, 29-02-2008 | 01:05:20

Image
RETAK - Jembatan Martapura 1, retak karena tak mampu menahan beban di atasnya. Setiap hari truk batu bara bermuatan di atas ton melintas di jembatan ini. (BANJARMASIN POST/DONNY SOPHANDI)
• Kewalahan Atasi Sopir Nakal

MARTAPURA, BPOST - Kapolres Banjar AKBP H Sudrajat mengaku bingung mengatasi truk besar yang melintasi Jembatan Martapura, meski truk itu memiliki andil besar retaknya jembatan itu.


Menurutnya, jajarannya telah sering kali menangkap para sopir truk batu bara yang mengangkut lebih dari enam ton. Karena yang ditangkap terlalu banyak, sementara SDM yang ada sangat minim, maka penangkapan itu tidak bisa dilakukan tiap hari.

"Jumlah anggota kita hanya berapa. Meski kami minim anggota, kami tetap akan menindak tegas yang melanggar," kata Sudrajat, Kamis (28/2).

Ditambahkan, tugas bagian Satlantas di lingkungannya sangat banyak karena daerah yang ada di Kabupaten Banjar cukup rawan kecelakaan lalu lintas. Jika hanya mengurusi angkutan truk batu bara saja, dikhawatirkan masalah lain terbengkelai.

Untuk itu, dia meminta kesadaran para sopir truk dan pengusaha angkutan untuk mematuhi aturan yang berlaku. Pasalnya, jika jalan yang ada rusak, yang terganggu tak hanya armada truk, tapi juga pengguna jalan yang lain.

Sementara itu dari keterangan yang berhasil dikumpulkan dari sejumlah warga di sekitar jembatan Martapura itu, keberadaan jembatan Martapura 1 dan 2 itu sangat penting. Jembatan Martapura 1 dan 2 itu dibangun sejak tahun 1978. Sebelumnya, jembatan yang ada terletak di wilayah Pekauman. Saat ini, di Pekauman telah dibangun jembatan baru.

Darkuni, warga Martapura mengatakan, jembatan pekauman yang lama hanya selebar empat meter. Hanya cukup dilewati satu truk saja. Jika berpapasan, maka yang satu harus mengalah. Jembatan Pekauman yang lama terbuat dari kayu ulin.

"Dulu, jembatan Pekauman itu sering dilintasi truk pengangkut kayu. Truknya besar-besar dan masih kuno. Kalau menghidupkan mesin harus diengkol di bagian depannya. Kendaraan roda dua pun hanya beberapa orang saja yang punya, itupun merek honda tahun 70-an," kata Darkuni warga asli Martapura.

Menurutnya, berhubung arus lalu lintas semakin ramai, sementara jembatan Pekauman sudah tidak mampu lagi menampung kendaraan yang ada, maka dibuatlah jembatan Martapura 1 dan 2 itu tahun 1978. Setelah jembatan kembar itu jadi, jembatan Pekauman terbengkelai dan hanya dipakai untuk pejalan kaki dan sepeda motor saja. Bahkan, jembatan Pekauman lama yang dibuat pada jaman Belanda itu akhirnya runtuh akibat terlalu tua.

"Untung runtuhnya pada malam hari sehingga tidak ada korban. Dulu, runtuhnya jembatan Pekauman itu juga sempat dimuat di BPost," jelas Darkuni.

Sementara itu, Bupati Banjar, HG Khairul Saleh mengatakan, jembatan Pekauman yang baru sudah siap 100 persen digunakan. Bahkan, dia telah meminta Pemprov untuk segera merenovasi jembatan Martapura 1 dan 2 karena cukup membahayakan pengguna jembatan tersebut. (sig)