Tuesday, June 10, 2008

Penambang Paling Tidak Taat

Minggu, 08-06-2008 | 01:10:30


Penambang Paling Tidak Taat

• Penyebab Terbesar Kerusakan Lingkungan

BANJARMASIN, BPOST - Kegiatan pertambangan di Indonesia tercatat sebagai sektor yang paling tidak taat dalam mengelola dan melakukan perbaikan lingkungan. Akibatnya, perusahaan perusak lingkungan lebih banyak adalah perusahaan tambang.

Hal itu dikemukakan Perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Karliansyah, pada seminar dan pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lumbung Informasi Rakyat (Lira) di Swissbel Hotel Borneo, Banjarmasin, Sabtu (7/6).

“Kegiatan pertambangan merupakan sektor yang paling tidak taat terhadap pengelolaan lingkungan. Khusus tambang batu bara, pada tahun 2006 hanya 32 persen yang taat lingkungan,” ujarnya.

KLH menilai kinerja perusahaan atas pengelolaan lingkungan itu melalui program yang disebut Program Penilaian Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan atau Proper.

Penilaian proper meliputi kualitas air, udara, limbah B3, Amdal, dan dumping ke laut dan dilakukan setiap tahun sekali terhadap perusahaan-perusahaan yang telah ditentukan.

Perusahaan yang kinerja lingkungannya buruk akan diberikan bendera merah dan hitam yang sangat buruk. Sedangkan yang sudah cukup bagus mengelola lingkungan diberikan bendera biru, setelah hijau dan teratas emas.

Terakit masalah global warming, sesuai dengan tema seminar kemarin, Karliansyah mengungkapkan batubara tergolong bahan bakar yang kecil menghasilkan karbon --zat pemicu naiknya efek rumah kaca-- jika digunakan dengan teknologi bersih.

Menurut perwakilan Departemen Pertambangan, Dade I Suhendra, jika pertambangan dilakukan mengikuti prosedur yang ada maka tidak ada pertambangan merusak alam tetapi hanya mengubah sementara kondisi alam tersebut.

“Setelah ditambang maka kondisinya akan dikembalikan seperti asal,” katanya.

Sementara itu, Presiden LIRA, M Yusuf Rizal, melantik para pengurus DPW Lira Kalsel. Duduk sebagai Gubernur Lira Kalsel adalah M Naim. (ais)