Friday, September 12, 2008

Setoran Baramarta Terus Disoal

Kamis, 11 September 2008
Martapura,- Kecilnya setoran PD Baramarta ternyata bukan hanya disoal Komisi II saja. Nyaris seluruh fraksi yang ada di DPRD Banjar menyoal masalah yang sama. F-Golkar merupakan salah satu yang menyuarakan dengan keras ketimpangan itu.

“Kami sebut angka Rp6 miliar di tahun 2008 itu invalid. Ini karena kami tidak ingin mengatakan angka itu merupakan kebohongan publik dan harus diusut tuntas,” ujar Ketua F-Golkar Imran Hadimi.

Menurut Ketua Komisi I DPRD Banjar ini, secara tegas dalam Perda Pembentukan PD Baramarta disebutkan Pemkab Banjar sebagai pemilik mendapatkan hag 55 persen dari laba bersih. Namun kenyataannya angka yang ditargetkan setiap tahunnya bulat.

Memang katanya, angka itu diambil akibat kebijakan Pemkab Banjar yang mematok pembagian hasil perusahaan pertambangan batubara tersebut berdasarkan target APBD. Namun tetap saja itu perlu ditelisik.

“Logikanya laba atau rugi sebuah perusahaan berfluktuasi. Tapi yang terjadi laba perusahaan bisa persis Rp6 miliar. Ini bagi F-Golkar jelas-jelas suatu rekayasa yang invalid,” katanya.

Masalah ini jelas sebuah kekeliruan yang tidak perlu diulangi lagi. Ingat tegasnya, Pemkab Banjar itu pemilik PD Baramarta, masa bargainingnya sangat lemah. Ke depan Imran mengingatkan masalah tersebut harus diperbaiki. Itu jika tidak ingin dikatakan semua kebijakan soal keuangan PD Baramarta direkayasa dan tidak bisa diterima secara akal sehat.

“Nah, untuk menghindari image negatif tersebut, Pemkab Banjar harus benar-benar menerapkan kebijakan sendiri. Tentu saja kebijakan sebagaimana yang diamanahkan dalam perda, yakni 55 persen dari laba bersih,” katanya.

Dengan demikian, Imran berkeyakinan PD Baramarta akan memberikan kontribusi yang lumayan besar seiring dengan semakin membaiknya harga batubara.

Sementara itu, dari amatan koran ini, perusahaan yang dibentuk di era kepemimpinan Rudy Ariffin tersebut terlihat semakin ekslusif. Kantor yang terletak di kawasan Komplek Antasari saat ini tertutup rapat. Hanya ada Satpam di depan kantor. Sementara sejumlah mobil mewah tampak parkir di halaman kantor yang kini sebagian ruangannya dijadikan kantor PT HC BIM dimana Gt Chairinsjach jadi dirut-nya.

“Itu yang sedan Honda City mobil pribadi Pak Yulizar. Kalau yang Toyota Camry mobil pribadinya Pak Irin (sebutan Gt Chairinsjach, Red.),” ujar salah seorang karyawan yang kebetulan ada di luar gedung PD Baramarta. (yan)


  [ Kemb