Wednesday, May 07, 2008

test

test

Monday, March 24, 2008

Sengon untuk Bekas Tambang

Selasa, 26-02-2008 | 01:24:44

BANJARMASIN, BPOST - Seorang peneliti mikrobiologi, Maman Turjaman mengatakan, terobosan rehabilitasi lahan tandus dengan pemanfaatan teknologi mikrobiologi dengan menggunakan mycorrhiza kini telah diujicobakan di hutan pertambangan Adaro di Kabupaten Tabalong.

Dikatakannya, lahan bekas penambangan batu bara seringkali minim bahkan tidak ada lapisan topsoil yang sebenarnya banyak mengandung unsur hara. Pada lahan kurang subur atau tandus ini mycorrihza bisa diaplikasikan. Jenis jamur ini bisa meningkatkan kesuburan tanaman.

Demikian disampaikan peneliti ini dalam internasional workshop Pemanfaatan Teknologi Rhizosfer dalam Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman pada Tanah Tandus di Rattan Inn, Senin (25/2).

Untuk merintis pertumbuhan vegetasi, lahan tambang yang tandus perlu ditanami tumbuhan fast growing seperti sengon dan eucalyptus bersimbiosis dengan mycorrhiza. Untuk eucalyptus, jenis yang digunakan ectomycorrhiza dan arbuscular mycorrhiza.

Sedangkan untuk sengon, bisa menggunakan arbuscular mycorrhiza dan rhizobium. Jenis jamur ini umumnya diambil dari hutan yang belum dibuka ataupun lahan asal.

Setelah itu, barulah ditanami tumbuhan lain antara lain meranti, gGaharu dan ulin. "Dengan kita tanam berbagai jenis maka kondisinya bisa kembali ke kondisi lahan awal, sumber daya tanah semula. Selain itu, pepohonan tersebut dapat diberdayakan untuk perekonomian masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Irnayuli Sitepu, ahli bakteri, mengemukakan teknologi pemanfaatan bakteri pun tak kalah ampuh untuk merintis vegetasi di lahan tandus.

Irna menjelaskan kandungan sulfur di lahan bekas penambangan sangat tinggi akibat pemprosesan batu bara, seringkali timbul kubangan acid mine drainage. Bakteri seperti halnya thiobacillus desulfurikans dapat membantu mem-break down sulfur yang tinggi tersebut sehingga tidak terakumulasi di lahan tersebut.

Bakteri-bakteri ini, kata dia, diaplikasikan dulu di persemaian lalu dipindahkan ke lahan tambang. Dan selain itu, penting pula untuk mengaplikasikan rhizobium untuk fiksasi nitrogen, unsure hara yang dibutuhkan pertumbuhan tanaman.

"Lahan tambang umumnya telah terkontaminasi toksit, lahan jadi beracun dan susah ditumbuhi Di samping mengaplikasikan bakteri pereduksi sulfur dan bakteri penetralisir toksit, perlu pula untuk mengaplikasikan rhizobium. Bakteri ini penting untuk memfiksasi nitrogen dari udara ataupun tanah," jelasnya. (aa)

Pengusaha Batu Bara Penyebabnya

Kamis, 20-03-2008 | 00:30:15

• Target Pegadaian Anjlok 20 Persen

BANJARMASIN, BPOST - Terpuruknya dunia usaha di daerah ini, khususnya pertambangan batu bara berskala kecil dan industri perkayuan telah banyak membawa dampak ke sektor lain.

Salah satunya Perum Pegadaian, akibat penertiban kuasa pertambangan (KP) yang dilakukan pemerintah sejumlah pengusaha tambang batu bara beromset kecil tidak bisa beroperasi. Padahal mereka menjadi nasabah utama Pegadaian di Banjarmasin.

"Walaupun jumlah mereka sedikit, sekitar 10 persen dari seluruh nasabah Pegadaian, namun pinjamannya paling banyak," kata Manager Cabang Pegadaian Banjarmasin, Ngatawi SE saat penyerahan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) di SDN Tanjung Pagar 3 Jalan Gerilya Banjarmasin, Selasa (18/3).

Pengusaha batu bara ini, paparnya, sering menggadaikan mobil atau kendaraannya untuk meminjam dana hingga Rp 200 juta. Begitu juga pengusaha yang menggeluti industri perkayuan. "Karena industri ini terpuruk, membuat omset pegadaian menurun," ungkapnya.

Menurut Ngatawi, 2006 lalu pendapatan Pegadaian Cabang Mitra Banjarmasin sebesar Rp 54 miliar, namun karena permasalahan di atas tahun lalu pendapatan menurun hanya Rp 45 miliar saja.

"Namun untuk tahun ini target ditingkatkan menjadi Rp 60 miliar untuk kredit cepat dan aman (KCA), kredit Kreasi Rp 2 miliar dan Krista Rp 500 juta. Dan kami optimis ini tercapai," uangkapnya.

Sementara itu, Parum Pegadaian Kalimantan menyerahkan dana PKBL sebesar Rp 60 juta dalam bentuk renovasi kelas di SDN Tanjung Pagar 3 Banjarmasin.

"SD ini kondisinya sangat memprihatikan banyak kelas yang hancur, sehingga satu ruangan dipakai untuk murid dua kelas. Dengan kondisi ini sekolahan ini layak mendapat bantuan," lanjutnya. Seluruh Kalimantan, tambahnya, tersedia dana sebanyak Rp 120 juta untuk PKBL, dan 60 juta untuk renovasi SDN Tanjung Pagar 3 yang memiliki 84 pelajar. (tri)