Monday, September 10, 2007

Seminar Regional Kalimantan Kekayaan Alam untuk Kesejahteraan

Tuesday, 21 August 2007 02:41:00

BANJARMASIN, POST - Provinsi Kalimantan Selatan termasuk daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah sehingga dapat memacu pertumbuhan perekonomian daerah. Ironisnya, semua itu belum secara optimal mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan.

Berdasar data BPost, pendapatan dari sektor sumberdaya mineral, batu bara dan energi untuk tahun 2006, penerimaan negara dari ekspor batu bara mencapai lebih kurang 600 juta dolar AS.

Sementara penerimaan Kalsel, dari royalti batu bara untuk tahun 2006 mencapai Rp 464,4 miliar, migas Rp 10,8 miliar dan air mencapai Rp 6,4 miliar.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertambangan Kalsel, Ali Muzanie dalam Seminar Regional Kalimantan yang dilaksanakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (BEM-FE) Unlam Banjarmasin, Senin (20/8), di Gedung Serba Guna Unlam Banjarmasin.

Dalam seminar yang diikuti mahasiswa dan pengusaha se-Kalimantan itu, Muzanie menjelaskan regulasi mantap adalah peraturan daerah yang bisa memacu pertumbuhan perekonomian daerah setempat dan sekitarnya.

Terlebih sesuai grafik penerimaan daerah, penerimaan untuk sektor pertambangan di Kalsel berada urutan kedua sebesar 18 persen setelah pertanian sebesar 24 persen.

Hal ini dasari, potensi bahan galian di Kalsel di antaranya batu bara jumlahnya mencapai 9,1 miliar ton, bijih besi 194.817.800 ton, bijih emas 23,227.000, nikel 42,434.000 ton, dan besi mencapai sekitar 194 juta ton.

Sementara itu, Robertus Bambang dari PT CPD mengatakan, agar penerapan regulasi itu tidak berdampak terhadap iklim investasi dan usaha, preventif atas regulasi SDA pastikan tidak termasuk kawasan hutan konversi, hutan lindung dan produksi.

"Setidaknya penambangan yang dilakukan harus berwawasan lingkungan, kepastian hukum, kepastian investasi menguntungkan dan rencana penambangan jangka panjang," kata Bambang.

Terkait hal itu, Selasa (21/8) di Mahligai Pancasia kembali dilaksanakan acara Kalimantan Berdialog tentang Peranan SDA Terhadap Perekonomian Kalimantan.

"Acara ini dilakukan karena kami lihat perkembangan yang terjadi di Kalimantan terutama masalah SDA belum optimal digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Kalimantan terutama daerah sekitar tambang," kata Malik, penanggungjawab kegiatan.mdn


Arutmin Bagikan 500 Beasiswa

Senin, 20 Agustus 2007

WAJAH mahasiswi Unlam bernama Udan terlihat ceria, ketika Gubernur Kalsel H Rudy Arrifin bersama Community Developmen PT Arutmin Indonesia secara resmi menyerahkan beasiswa kepada dirinya. Sambil mengucapkan rasa syukur dan terima kasih, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) semester VII ini terlihat terharu ketika menerimanya.

“Saya baru pertama kali mendapatkan beasiswa dari PT Arutmin. Untuk mendapatkan beasiswa ini tidak mudah, karena harus mengikuti serangkaian tes dulu,” katanya.

Komitmen untuk memajukan dunia pendidikan di Kalsel, ternyata hingga saat ini terus dilakukan PT Arutmin Indonesia Site Kalsel. Untuk tahun 2007 ini, sedikitnya 500 orang, dari tingkat SD sampai perguruan tinggi mendapat beasiswa.

Untuk tingkat perguruan tinggi, mahasiswa mendapatkan beasiswa berjumlah 120 orang, selebihnya beasiswa itu diberikan untuk siswa SD hingga SMA.

Menurut Community & External Affair Superintendent PT Arutmin Indonesia Site Satui, Salim S Basir, beasiswa yang diberikan PT Arutmin itu adalah program tahunan yang sudah terdaftar dalam corporate social responsibility (CSR) PT Arutmin. “Maksud dari program ini untuk kemajuan dan peningkatan kualitas SDM masyarakat Kalsel, khususnya warga sekitar tambang,” ungkap Salim.

Secara teknis, lanjutnya, program beasiswa ini dilakukan melalui kerjasama dengan beberapa LSM yang tergabung dalam tim khusus. Tugasnya melakukan prekrutan mahasiswa dan pelajar yang berprestasi. Diantaranya adalah Ikatan Mahasiswa Tanah Bumbu, BLHI, Baznas dan Kompak.

Selain itu, kata Salim lagi, dalam program CSR ini PT Arutmin juga memberikan insentif bagi para guru honorer yang ada di sekitar areal pertambangan.

Saat ini, sekolah formal maupun informal di Kecamatan Satui masih banyak yang memerlukan guru. Untuk memenuhinya, sekolah yang kekurangan guru terpaksa harus mengambil guru honorer yang mau mengajar walau pun hanya dengan gaji rendah.

Melihat fenomena tersebut, maka PT Arutmin Indonesia Tambang Satui yang peduli akan masa depan anak-anak lingkar tambang, kemudian membuat program Community Development (CD) yang bertujuan memberikan bantuan tunjangan insentif setiap bulan kepada guru-guru honorer khususnya guru SD dan TPA. “Kami juga bekerja sama dengan IAIN Antasari khususnya Fakultas Perbankan Syariah, dengan menggandeng para mahasiswa yang sudah menjalani KKN, sebagai pendamping para pelaku usaha UKM disekitar lingkar tambang Satui dan Kintap,” ujarnya.(gsr)

Batu Bara Dibuang ke Laut Nelayan Khawatir Merusak Habibat

Friday, 17 August 2007 01:34

KOTABARU, BPOST - Sejumlah nelayan di Desa Rampa, Kotabaru mengaku melihat pekerja ponton (kapal pengangkut batu bara) membuang sisa batu bara di sekitar perairan Tanjung Pemancingan.

"Saat mencari udang dan ikan, kami melihat beberapa pekerja kapal ponton membuang sisa batu bara ke laut," kata Sito yang diamini beberapa rekannya, Kamis (16/8).

Pembuangan sisa batu bara itu juga terjadi di sekitar Pulau Sebuku, Muara pantai dan lainnya. Batu bara dibuang saat ponton telah memindahkan batu bara kualitas baik ke kapal pengangkut lainnya.

Sito dan beberapa rekannya, mengaku sisa batu bara itu merusak biota laut, karena endapan batu bara berbahaya bagi kehidupan di dasar laut.

"Kami pernah menanyakan hal itu dengan ahli kelautan dari Banjarmasin. Menurutnya, batu bara yang langsung dibuang ke laut akan membunuh flankton," katanya.

Mengutip penuturan ahli itu batu bara mengandung sulfida (belerang), kandungan ini membuat batubara menjadi panas dan apabila dibuang ke laut maka bisa membunuh flankton.

Sementara Ketua Ikatan Nelayan Saijaan Kotabaru Arbani, mengatakan, nelayan sudah merasakan dampak dari pembuangan sisa batu bara itu. Sejumlah kawasan tangkapan yang dulu banyak ikannya menjadi berkurang.

"Mudah-mudahan, pemerintah daerah dan dinas terkait lainnya peduli dengan kondisi saat ini. Kalau dibiarkan kami khawatir ikan terus berkurang," kata Arbani.

Sementara nelayan penggondrong yang biasa mencari udang menggunakan lampara dasar mini bisa bernafas lega. Pasalnya, PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) Tarjun telah mengangkat limbah sebanyak 3.200 meter kubik buangan batu eks alur kolam pelabuhan.

Konsultan pengangkatan batu dari tim riset Universitas Lambung Mangkurat Suhaili Asmawi, mengakui, keberadaan limbah itu memang menganggu nelayan, seperti jala tersangkut.

Bupati Kotabaru Sjcahrani Mataja berharap rampungnya pengangkatan batu bisa menyelesaikan konflik antarnelayan dan pihak perusahaan.

"Mari kembali kita bangun kebersamaan dengan tujuan membangun Kotabaru," katanya. dhs